Workaholic adalah istilah yang merujuk pada seseorang yang memiliki kecanduan bekerja secara berlebihan hingga mengorbankan aspek kehidupan lainnya seperti kesehatan, hubungan sosial, dan waktu istirahat. Fenomena workaholic semakin marak di Indonesia, terutama di era digital dan budaya hustle yang mengagungkan produktivitas tanpa henti.
Dalam praktiknya, banyak pekerja di kota-kota besar Indonesia menghabiskan lebih dari 10 jam per hari untuk bekerja, jauh melebihi standar 8 jam kerja yang ditetapkan dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan.
Workaholic bukan sekadar bekerja keras atau memiliki etos kerja yang tinggi. Kondisi ini merupakan bentuk kecanduan secara psikologis yang dapat berdampak serius pada kesehatan fisik, mental, dan kehidupan sosial seseorang. Di tengah persaingan kerja yang ketat dan budaya “always on” yang difasilitasi oleh teknologi, batas antara kerja keras yang produktif dengan workaholic semakin kabur.
Artikel ini akan mengupas tuntas tentang apa itu workaholic, ciri-ciri yang perlu diwaspadai, dampak negatifnya, serta bagaimana cara mengatasinya, khususnya dalam konteks dunia kerja di Indonesia. Dengan pemahaman yang tepat, kita dapat membedakan antara dedikasi profesional yang sehat dengan kecanduan kerja yang berpotensi merusak kualitas hidup kita.
Apa Itu Workaholic?
Dalam psikologi, workaholic didefinisikan sebagai kondisi kecanduan bekerja yang ditandai dengan dorongan kompulsif untuk terus bekerja, meskipun tidak ada tuntutan eksternal yang mengharuskannya.
Berbeda dari kerja keras yang termotivasi oleh tujuan dan tetap menjaga keseimbangan, workaholic termotivasi oleh kecemasan internal, ketakutan, dan ketidakmampuan untuk mengatasi emosi tanpa bekerja.
Penelitian dari Journal of Occupational Health Psychology oleh Christian Balducci menemukan bahwa kecanduan kerja memiliki dampak serius terhadap kesehatan mental, dengan prevalensi yang signifikan di kalangan pekerja. Penelitian ini mengindikasikan bahwa kecanduan kerja dapat memiliki efek negatif yang sebanding dengan masalah kecanduan lainnya, seperti perjudian atau alkoholisme.
Sejarah dan Evolusi Konsep Workaholic
Istilah “workaholic” pertama kali dicetuskan oleh psikolog Amerika Wayne Oates dalam bukunya “Confessions of a Workaholic” yang terbit pada tahun 1971. Ia menggambarkan kecanduan terhadap pekerjaan sebagai serupa dengan kecanduan alkohol, di mana seseorang terus bekerja meskipun sudah menimbulkan konsekuensi negatif pada kehidupannya.
Sejak itu, konsep workaholic telah mengalami evolusi seiring perubahan budaya kerja:
- Era Industri (1970-1990): Workaholic identik dengan jam kerja panjang di kantor dan membawa pekerjaan ke rumah dalam bentuk dokumen fisik.
- Era Teknologi Awal (1990-2010): Munculnya email dan laptop memungkinkan orang untuk tetap terhubung dengan pekerjaan di mana saja, mengaburkan batas antara waktu kerja dan pribadi.
- Era Digital (2010-sekarang): Smartphone, media sosial, dan aplikasi pesan instan telah menciptakan ekspektasi “selalu tersedia” yang memperburuk kecenderungan workaholic.
Perbedaan Workaholic dengan Kerja Keras yang Sehat
Penting untuk membedakan antara workaholic dengan etos kerja yang tinggi namun sehat. Perbedaan utamanya meliputi:
Aspek | Workaholic | Pekerja Keras yang Sehat |
Motivasi | Didorong oleh kecemasan, rasa takut gagal, dan ketidakmampuan berelaksasi | Didorong oleh tujuan, passion, dan nilai-nilai personal |
Sikap terhadap Waktu Istirahat | Merasa bersalah atau cemas saat tidak bekerja | Menikmati waktu istirahat sebagai bagian penting dari kehidupan |
Identitas Diri | Identitas diri sangat bergantung pada pekerjaan dan prestasi | Memiliki identitas yang seimbang antara profesional dan personal |
Dampak | Mengorbankan kesehatan, hubungan, dan kesejahteraan demi pekerjaan | Mampu menyeimbangkan antara kerja dan aspek kehidupan lainnya |
Hasil | Sering mengalami burnout dan penurunan produktivitas jangka panjang | Berkelanjutan dan produktif dalam jangka panjang |
Pelajari lebih lanjut tentang self-awareness untuk memahami pola kerja Anda di sini
10 Ciri-Ciri Workaholic yang Perlu Diwaspadai
Bagaimana mengenali apakah Anda atau kolega Anda termasuk workaholic? Berikut adalah 10 ciri-ciri yang perlu diwaspadai, khususnya dalam konteks budaya kerja di Indonesia.
1. Sulit Berhenti Memikirkan Pekerjaan
Workaholic hampir tidak pernah bisa melepaskan pikiran dari pekerjaan, bahkan ketika sedang berlibur atau menghadiri acara sosial. Mereka terus-menerus memikirkan proyek, deadline, atau email yang belum dibalas.
2. Selalu Cek Email dan Pesan Kerja di Luar Jam Kantor
Kebiasaan membuka email kerja atau aplikasi pesan seperti Slack dan WhatsApp Business pada pagi buta, malam hari, akhir pekan, bahkan saat liburan merupakan ciri khas workaholic di era digital.
Di Indonesia, fenomena ini diperburuk oleh “budaya WhatsApp” dalam komunikasi kerja, di mana ada ekspektasi tidak tertulis untuk selalu responsif terhadap pesan dari atasan atau rekan kerja, kapan pun dan di mana pun.
3. Mengorbankan Waktu Istirahat dan Liburan
Workaholic sering menunda atau membatalkan cuti, bekerja selama liburan, atau merasa tidak nyaman saat tidak produktif. Mereka memiliki kesulitan menikmati waktu luang tanpa merasa bersalah.
Fenomena “membawa laptop saat liburan” menjadi semakin umum di kalangan profesional Indonesia. Tak sedikit pekerja yang tetap bekerja selama liburan mereka, dan mereka mengaku tidak mengambil seluruh jatah cuti tahunan mereka.
4. Identitas Diri Sangat Bergantung pada Pekerjaan
Bagi workaholic, identitas diri sangat terikat dengan pekerjaan. Pertanyaan “Apa pekerjaanmu?” bukan sekadar pertanyaan tentang profesi, tapi menyangkut seluruh nilai diri mereka.
Pekerja dengan gejala workaholic biasanya menunjukkan tanda-tanda self-worth contingency, di mana harga diri mereka sangat bergantung pada prestasi kerja.
5. Bekerja Jauh Melebihi Ekspektasi atau Tuntutan
Workaholic cenderung bekerja jauh melebihi apa yang diharapkan, bahkan ketika tidak ada tenggat waktu mendesak atau tuntutan dari atasan. Mereka sering menambahkan beban kerja tambahan secara sukarela.
Padahal menurut UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003, jam kerja standar di Indonesia adalah 40 jam per minggu atau 8 jam per hari untuk 5 hari kerja.
6. Mengabaikan Kesehatan Demi Pekerjaan
Tanda workaholic yang jelas adalah mengabaikan tanda-tanda fisik dan mental yang memperingatkan bahwa tubuh membutuhkan istirahat. Mereka sering menunda pemeriksaan kesehatan, tetap bekerja meski sedang sakit, atau mengabaikan gejala stres.
7. Hubungan Personal Terabaikan
Bagi workaholic, pekerjaan seringkali menjadi prioritas di atas hubungan personal. Mereka mungkin melewatkan acara keluarga penting, jarang bertemu teman, atau mengalami konflik dalam hubungan romantis karena terlalu fokus pada pekerjaan.
8. Perfeksionisme yang Ekstrem
Workaholic sering memiliki standar perfeksionis yang ekstrem, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Mereka sulit mendelegasikan tugas karena khawatir tidak akan memenuhi standar mereka yang tinggi.
9. Menggunakan Pekerjaan untuk Melarikan Diri dari Masalah
Workaholic sering menggunakan pekerjaan sebagai mekanisme pelarian dari masalah pribadi, konflik emosional, atau perasaan tidak nyaman. Alih-alih menghadapi masalah tersebut, mereka membenamkan diri dalam pekerjaan.
10. Ketidakmampuan Menikmati Waktu Senggang
Tanda workaholic yang sering terabaikan adalah kesulitan menikmati waktu senggang tanpa merasa gelisah atau tidak produktif. Saat dipaksa beristirahat, workaholic sering merasa cemas, bosan, atau bahkan mengalami gejala seperti withdrawal.
BACA JUGA: Ketahui Ciri-Ciri Lingkungan Kerja Toxic yang Mungkin Kamu Alami
Dampak Negatif Workaholic pada Kesehatan dan Kehidupan
Menjadi workaholic bukan hanya masalah gaya hidup, tetapi dapat berdampak serius pada berbagai aspek kesehatan dan kehidupan. Berikut adalah dampak-dampak signifikan yang perlu diperhatikan:
Dampak pada Kesehatan Fisik
Kecanduan bekerja dapat mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan fisik, termasuk:
- Gangguan Kardiovaskular
Jam kerja yang panjang dapat berkontribusi pada peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk stroke dan serangan jantung. Beberapa studi menunjukkan hubungan antara jam kerja yang berlebihan dan kesehatan jantung - Gangguan Muskuloskeletal
Duduk terlalu lama di depan komputer, postur yang buruk, dan kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan nyeri punggung, leher, dan bahu kronis. - Gangguan Sistem Pencernaan
Stres kronis akibat overworking dapat memicu atau memperburuk kondisi seperti sindrom iritasi usus besar, maag, dan ulkus peptikum. - Gangguan Tidur
Workaholic sering mengalami insomnia, kualitas tidur yang buruk, atau sleep debt yang terakumulasi. Secara umum, banyak penelitian telah menunjukkan bahwa pekerja yang bekerja lebih dari 55-60 jam per minggu cenderung mengalami masalah tidur, termasuk insomnia dan gangguan tidur lainnya. Penelitian di bidang kesehatan kerja sering kali menunjukkan bahwa jam kerja yang panjang dapat berdampak negatif pada kualitas tidur dan kesehatan mental. - Penurunan Sistem Imun
Kelelahan kronis dan stres berkepanjangan dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, membuat workaholic lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit.
Dampak pada Kesehatan Mental
Samping kesehatan fisik, workaholic sangat rentan terhadap masalah kesehatan mental, antara lain:
- Burnout
- Anxiety Disorder
- Depresi
- Penurunan Fungsi Kognitif
Dampak pada Hubungan Sosial dan Keluarga
Kecanduan bekerja juga merusak kehidupan sosial dan keluarga:
- Konflik Rumah Tangga
- Pengabaian Anak
- Isolasi Sosial
- Hilangnya Support System
Dampak pada Produktivitas dan Karier Jangka Panjang
Meski paradoks, workaholic seringkali justru mengalami dampak negatif pada produktivitas dan karier jangka panjang:
- Penurunan Produktivitas
- Kesalahan dan Kecelakaan Kerja
- Stagnasi Kreativitas
- Burnout dan Keluar dari Pekerjaan
Ingin tahu bagaimana mencapai tujuan karier tanpa menjadi workaholic? Pelajari di sini
Faktor Penyebab Workaholic di Indonesia
Untuk mengatasi kecanduan kerja, penting untuk memahami akar permasalahannya. Di Indonesia, terdapat beberapa faktor unik yang berkontribusi pada fenomena workaholic:
Faktor Individual dan Psikologis
- Pola Pikir “No Pain, No Gain”
Banyak profesional Indonesia menginternalisasi kepercayaan bahwa kesuksesan hanya dapat dicapai melalui penderitaan dan pengorbanan yang ekstrem. - Ketakutan akan Kegagalan (Fear of Failure)
Di masyarakat yang sangat mementingkan status sosial, ketakutan akan kegagalan dan kehilangan muka (“malu”) menjadi pendorong kuat untuk bekerja berlebihan. - Perfeksionisme
Perfeksionisme yang maladaptif sering menjadi faktor pendorong workaholic. Orang dengan tipe kepribadian ini sulit menerima hasil yang kurang dari sempurna dan terus menerus mencari validasi melalui pencapaian. - Penggunaan Kerja sebagai Coping Mechanism
Banyak orang menggunakan pekerjaan sebagai cara untuk melarikan diri dari masalah pribadi, kesepian, atau perasaan tidak menyenangkan.
Faktor Sosial dan Budaya di Indonesia
- Budaya “Gengsi” dan Status Sosial
Di Indonesia, pekerjaan dan posisi masih menjadi penanda status sosial yang kuat. Kesibukan ekstrem sering dipandang sebagai simbol kesuksesan dan prestise. - Nilai Keluarga Kolektivis
Tanggung jawab terhadap keluarga besar (extended family) dan ekspektasi untuk “mengangkat derajat keluarga” dapat mendorong seseorang bekerja berlebihan. - Ajaran Agama dan Nilai Kerja Keras
Interpretasi tertentu dari ajaran agama yang mengagungkan kerja keras sebagai bentuk ibadah atau ketaatan kadang disalahartikan untuk membenarkan workaholic. - Role Model dan Tokoh Panutan
Media sosial dan pemberitaan sering mengagungkan cerita kesuksesan pengusaha atau profesional yang “bekerja 20 jam sehari” atau “tidak pernah libur”, menciptakan role model yang tidak sehat.
Faktor Ekonomi dan Pasar Kerja
- Ketidakamanan Kerja (Job Insecurity)
Tingginya persaingan kerja dan ketidakstabilan ekonomi menciptakan rasa tidak aman yang mendorong orang bekerja berlebihan untuk membuktikan nilai mereka. - Budaya Presenteeism
Banyak perusahaan di Indonesia masih menganut budaya “presenteeism” di mana kehadiran fisik dan jam kerja panjang lebih dihargai daripada hasil dan efisiensi. - Kesenjangan Upah dan Biaya Hidup
Kesenjangan antara upah dengan biaya hidup, terutama di kota-kota besar, mendorong banyak profesional untuk mengambil pekerjaan tambahan atau lembur berlebihan. - Digitalisasi dan Ekspektasi “Always On”
Transformasi digital telah menciptakan ekspektasi untuk selalu tersedia dan responsif terhadap komunikasi kerja.
Faktor Organisasional
- Budaya Perusahaan Toksik
Beberapa perusahaan, baik sengaja maupun tidak, menciptakan budaya yang mengagungkan kelelahan dan jam kerja panjang. - Kurangnya Batasan Kerja yang Jelas
Perkembangan kerja jarak jauh dan hibrid tanpa kebijakan yang jelas tentang jam kerja dan ketersediaan telah mengaburkan batas antara waktu kerja dan waktu pribadi. - Sistem Reward yang Tidak Seimbang
Sistem penghargaan yang hanya fokus pada output dan dedikasi berlebihan, bukan pada keseimbangan dan kesehatan, mendorong perilaku workaholic. - Beban Kerja dan Ekspektasi yang Tidak Realistis
Banyak organisasi, terutama pasca pandemi dan di tengah tekanan ekonomi, menerapkan kebijakan “do more with less” yang menyebabkan beban kerja berlebihan.
Cara Mengatasi Workaholic: Strategi Praktis
Jika Anda mengenali tanda-tanda workaholic pada diri sendiri atau orang terdekat, berikut adalah strategi praktis untuk mengatasinya, khususnya dalam konteks kehidupan kerja di Indonesia:
Strategi Personal untuk Mengatasi Workaholic
- Kenali dan Akui Masalahnya
Langkah pertama adalah mengakui bahwa kecanduan kerja adalah masalah nyata, bukan sekadar “dedikasi tinggi”. Lakukan refleksi jujur tentang pola kerja dan motivasi di baliknya.
Tindakan praktis: Gunakan kuesioner self-assessment seperti Bergen Work Addiction Scale atau konsultasikan dengan psikolog untuk evaluasi objektif. - Tetapkan Batasan yang Jelas
Ciptakan batas yang tegas antara waktu kerja dan waktu pribadi, bahkan saat bekerja dari rumah.
Tindakan praktis:- Matikan notifikasi email dan aplikasi pesan kerja setelah jam tertentu
- Gunakan kalender untuk memblokir waktu pribadi yang tak bisa diganggu
- Buat ruang kerja terpisah di rumah yang bisa “ditinggalkan” secara fisik
- Mulai dengan Perubahan Kecil
Perubahan drastis sulit dipertahankan. Mulailah dengan langkah-langkah kecil yang realistis.
Tindakan praktis:- Tambahkan 30 menit waktu pribadi setiap hari
- Tetapkan satu hari dalam seminggu sebagai “hari bebas email”
- Ambil waktu istirahat penuh saat makan siang tanpa melihat perangkat kerja
- Kembangkan Identitas di Luar Pekerjaan
Investasikan waktu untuk mengembangkan aspek identitas diri di luar peran profesional.
Tindakan praktis:- Mulai hobi baru yang tidak terkait dengan pekerjaan
- Bergabung dengan komunitas berbasis minat atau keyakinan
- Luangkan waktu untuk mengembangkan keterampilan personal non-kerja
- Praktikkan Mindfulness dan Kesadaran Diri
Mindfulness membantu menyadari pemikiran dan dorongan terkait kerja tanpa harus bereaksi terhadapnya.
Tindakan praktis:- Latihan meditasi singkat 10 menit setiap pagi
- Praktikkan “check-in” emosional secara berkala sepanjang hari
- Catat pemicu yang membuat Anda terdorong bekerja berlebihan
Strategi Interpersonal dan Keluarga
- Komunikasikan Masalah dan Perubahan
Buka diskusi jujur dengan orang terdekat tentang pola kerja dan keinginan untuk berubah.
Tindakan praktis:- Jadwalkan “family meeting” reguler untuk membahas keseimbangan kerja-keluarga
- Minta pasangan atau teman untuk membantu mengingatkan batasan kerja
- Jelaskan perubahan yang Anda lakukan kepada keluarga agar mereka dapat mendukung
- Rencanakan dan Prioritaskan Waktu Keluarga
Jadwalkan waktu keluarga dengan keseriusan yang sama seperti Anda menjadwalkan rapat penting.
Tindakan praktis:- Tetapkan “tech-free family time” tanpa gangguan gadget
- Rencanakan liburan keluarga dan benar-benar lepaskan pekerjaan
- Jadikan acara keluarga mingguan sebagai prioritas yang tak bisa dibatalkan
- Perbaiki Hubungan yang Mungkin Terabaikan
Workaholic sering tidak menyadari kerusakan yang telah terjadi pada hubungan mereka.
Tindakan praktis:- Lakukan percakapan mendalam dengan pasangan dan anak-anak
- Tunjukkan perubahan melalui tindakan konsisten, bukan hanya janji
- Pertimbangkan konseling pasangan atau keluarga jika diperlukan
Strategi di Tempat Kerja
- Komunikasikan Batasan dengan Atasan dan Kolega
Jelaskan perubahan pola kerja Anda dengan cara profesional dan solusi-oriented.
Tindakan praktis:- Diskusikan ekspektasi ketersediaan yang realistis dengan atasan
- Buat sistem pengalihan tugas saat Anda tidak tersedia
- Tetapkan dan komunikasikan jam “deep work” tanpa gangguan
- Tingkatkan Efisiensi, Bukan Jam Kerja
Fokus pada peningkatan produktivitas selama jam kerja reguler, bukan memperpanjang waktu kerja.
Tindakan praktis:- Gunakan metode seperti Pomodoro Technique (25 menit fokus, 5 menit istirahat)
- Audit dan eliminasi aktivitas yang tidak produktif atau bisa didelegasikan
- Prioritaskan tugas menggunakan matriks Eisenhower (penting vs. mendesak)
- Gunakan Cuti dan Waktu Istirahat
Manfaatkan sepenuhnya hak cuti dan waktu istirahat yang diberikan perusahaan.
Tindakan praktis:- Rencanakan penggunaan jatah cuti tahunan di awal tahun
- Aktifkan fitur “out of office” saat cuti dan serahkan tugas-tugas penting
- Ambil istirahat singkat secara teratur sepanjang hari kerja
- Cari Dukungan di Lingkungan Kerja
Temukan teman atau mentor yang dapat membantu Anda menjaga keseimbangan.
Tindakan praktis:- Bentuk “pact” dengan rekan kerja untuk saling mengingatkan tentang batas waktu kerja
- Cari mentor yang mendemonstrasikan keseimbangan kerja-kehidupan yang sehat
- Ikuti program kesejahteraan yang mungkin ditawarkan oleh perusahaan
Strategi Profesional dan Bantuan Eksternal
- Pertimbangkan Terapi atau Konseling
Workaholic seringkali berakar pada masalah psikologis yang membutuhkan bantuan profesional.
Tindakan praktis:- Cari psikolog atau konselor yang berspesialisasi dalam adiksi perilaku
- Pertimbangkan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) yang terbukti efektif untuk kecanduan kerja
- Manfaatkan layanan Employee Assistance Program jika tersedia di perusahaan Anda
- Bergabung dengan Support Group
Belajar dari orang lain yang mengalami dan mengatasi masalah serupa bisa sangat bermanfaat.
Tindakan praktis:- Cari komunitas online atau offline untuk workaholics dalam pemulihan
- Bagikan pengalaman dan strategi coping yang berhasil
- Gunakan akuntabilitas kelompok untuk menjaga perubahan positif
- Pertimbangkan Perubahan Karier Jika Diperlukan
Terkadang lingkungan kerja tertentu sangat toksik sehingga perubahan signifikan diperlukan.
Tindakan praktis:- Evaluasi apakah kultur organisasi Anda secara fundamental tidak kompatibel dengan keseimbangan hidup
- Pertimbangkan transfer internal ke departemen dengan beban kerja lebih terkelola
- Jika diperlukan, cari peluang di organisasi dengan budaya kerja yang lebih sehat
Kasus Sukses: Mengatasi Workaholic di Indonesia
Berikut adalah kisah nyata dari Anita, 37 tahun, seorang manajer senior di perusahaan teknologi di Jakarta yang berhasil mengatasi kecanduan kerjanya:
“Selama hampir 10 tahun, saya bekerja 12-14 jam sehari, termasuk akhir pekan. Saya kehilangan pernikahan pertama saya, mengalami gangguan kecemasan parah, dan sempat dirawat karena exhaustion. Titik balik datang ketika dokter memperingatkan saya tentang risiko stroke jika terus dengan pola tersebut.
Perubahan dimulai dengan langkah kecil: mematikan notifikasi email setelah jam 8 malam, mengambil hari libur penuh setiap minggu, dan bergabung dengan kelas yoga. Saya bekerja dengan psikolog untuk mengatasi perfeksionisme dan ketakutan akan kegagalan yang mendorong workaholic saya.
Yang mengejutkan, setelah mengurangi jam kerja, produktivitas dan evaluasi kinerja saya justru meningkat. Fokus dan kreativitas saya lebih baik, dan saya membuat keputusan lebih cerdas. Kini saya menjadi mentor bagi banyak kolega muda untuk menunjukkan bahwa sukses tidak harus datang dengan mengorbankan kesehatan dan kebahagiaan.”
Kesimpulan: Menyeimbangkan Kerja Keras dan Kesehatan
Memahami apa itu workaholic adalah langkah pertama yang penting untuk mengenali dan mengatasi masalah ini. Kecanduan kerja bukan sekadar bekerja keras atau memiliki etos kerja tinggi—ini adalah kondisi psikologis bermasalah yang dapat merusak kesehatan, hubungan, dan ironisnya, kinerja jangka panjang.
Di Indonesia, faktor budaya, sosial, dan ekonomi menciptakan lingkungan yang sering mendorong dan mengagungkan perilaku workaholic. Dari budaya “gengsi” dan status sosial hingga ketidakamanan kerja dan ekspektasi “always on” di era digital, tantangan untuk menjaga keseimbangan hidup-kerja semakin kompleks.
Namun, perlu diingat bahwa produktivitas sejati bukanlah tentang jam kerja terpanjang, melainkan tentang hasil terbaik yang dicapai dengan cara berkelanjutan.
Jika Anda mengenali tanda-tanda workaholic pada diri sendiri, jangan ragu untuk mencari bantuan. Perubahan mungkin tidak mudah dan membutuhkan waktu, tetapi manfaatnya sangat berharga: kesehatan yang lebih baik, hubungan yang lebih memuaskan, dan ironisnya, karier yang lebih berkelanjutan dan sukses dalam jangka panjang.
Jika kamu ingin mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi dengan lebih mudah, aplikasi KitaLulus bisa membantumu! Ada banyak lowongan dengan gaji tinggi dari perusahaan terkenal yang bisa kamu lamar.Proses melamarnya juga mudah dan kamu bisa memantau status lamaranmu lewat HP. Yuk, download aplikasi KitaLulus sekarang dan gapai pekerjaan impianmu dengan #LebihMudah!
Menghini, L., &ย Balducci, C. (2024).ย The dailyย costs of workaholism: Aย within-individualย investigationย onย bloodย pressure,ย emotionalย exhaustion,ย andย sleep disturbances. Journalย of Occupationalย Healthย Psychology.ย Advance online publication.