Berpikir Kritis: Panduan Lengkap Tingkatkan Karir Anda

Ditulis oleh
Ditinjau oleh
Senior People Lead at KitaLulus

Profesional SDM berpengalaman 5+ tahun dengan fokus rekrutmen dan strategi di startup. Ahli membangun sistem SDM efektif, mengoptimalkan proses rekrutmen, dan meningkatkan retensi karyawan.

apa itu berpikir kritis
Berpikir Kritis: Panduan Lengkap Tingkatkan Karir Anda
Isi Artikel

Dalam era disrupsi dan persaingan global yang semakin ketat, perusahaan di Indonesia semakin mencari kandidat yang tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Berpikir kritis adalah salah satu soft skill yang paling dicari oleh pemberi kerja di berbagai industri. Kemampuan untuk menganalisis informasi secara objektif, mengevaluasi bukti, dan membuat keputusan berdasarkan logika, bukan hanya berdasarkan emosi atau asumsi, menjadi pembeda penting dalam dunia kerja profesional.

Dikutip dari Bisnis, berdasarkan survei LinkedIn pada tahun 2023 terhadap 4.323 manajer perekrutan di 18 negara, critical thinking atau berpikir kritis menjadi keterampilan yang dianggap penting di tengah era kecerdasan buatan, dengan persentase sebesar 27%.

Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam tentang apa itu berpikir kritis, mengapa keterampilan ini sangat penting di pasar kerja Indonesia, dan langkah-langkah praktis untuk mengembangkannya dalam konteks budaya dan lingkungan kerja Indonesia.

Pengertian Berpikir Kritis

Berpikir kritis adalah proses intelektual yang melibatkan analisis faktual, objektif, dan evaluatif terhadap suatu informasi, argumen, atau situasi. Ini melibatkan kemampuan untuk memeriksa bukti, mengidentifikasi hubungan sebab-akibat, mengenali bias, dan membuat kesimpulan berdasarkan penalaran yang logis, bukan hanya berdasarkan emosi atau opini.

Menurut Foundation for Critical Thinking, berpikir kritis adalah “proses disiplin intelektual yang secara aktif dan terampil mengkonseptualisasi, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan/atau mengevaluasi informasi yang dikumpulkan dari, atau dihasilkan oleh, observasi, pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi, sebagai panduan untuk keyakinan dan tindakan.”

Dalam konteks Indonesia, Prof. Dr. Winarno Surakhmad, pakar pendidikan terkemuka, mendefinisikan berpikir kritis sebagai “kemampuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis masalah secara sistematis, mencari bukti, dan menghasilkan solusi yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan dalam konteks sosial-budaya yang kompleks.”

Komponen Utama Berpikir Kritis

Ada beberapa komponen utama yang membentuk kemampuan berpikir kritis yang komprehensif:

1. Interpretasi

Kemampuan untuk memahami dan mengekspresikan makna dari berbagai pengalaman, situasi, data, peristiwa, penilaian, konvensi, keyakinan, aturan, prosedur, atau kriteria.

2. Analisis

Kemampuan untuk mengidentifikasi hubungan inferensial yang dimaksudkan dan aktual di antara pernyataan, pertanyaan, konsep, deskripsi, atau bentuk representasi lainnya yang dimaksudkan untuk mengekspresikan keyakinan, penilaian, pengalaman, alasan, informasi, atau pendapat.

3. Evaluasi

Kemampuan untuk menilai kredibilitas pernyataan atau representasi lain dari persepsi, pengalaman, situasi, penilaian, keyakinan, atau pendapat seseorang, dan untuk menilai kekuatan logis dari hubungan inferensial aktual atau yang dimaksudkan.

4. Inferensi

Kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengamankan elemen yang diperlukan untuk menarik kesimpulan yang masuk akal, membuat dugaan dan hipotesis, mempertimbangkan informasi yang relevan, dan menyimpulkan konsekuensi dari data, pernyataan, prinsip, bukti, penilaian, keyakinan, pendapat, konsep, deskripsi, pertanyaan, atau bentuk representasi lainnya.

5. Eksplanasi

Kemampuan untuk menyatakan hasil penalaran seseorang, membenarkan penalaran itu dalam hal pertimbangan bukti, konseptual, metodologis, kriteriologis, dan kontekstual, dan menyajikan penalaran seseorang dalam bentuk argumen yang meyakinkan.

6. Regulasi Diri

Kesadaran diri untuk memantau aktivitas kognitif seseorang, elemen-elemen yang digunakan dalam aktivitas tersebut, dan hasil-hasil yang dikembangkan, khususnya dengan menerapkan keterampilan dalam analisis dan evaluasi terhadap penilaian inferensial seseorang dengan pandangan untuk mempertanyakan, mengkonfirmasi, memvalidasi, atau mengoreksi baik penalaran atau hasilnya.

Pentingnya Berpikir Kritis dalam Dunia Kerja Indonesia

Kemampuan berpikir kritis semakin diakui sebagai keterampilan esensial di pasar kerja Indonesia yang terus berkembang. Mari kita telaah mengapa keterampilan ini sangat penting dalam konteks profesional Indonesia:

1. Menghadapi Kompleksitas Ekonomi dan Bisnis Indonesia

Indonesia, sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, menghadapi tantangan dan peluang yang kompleks:

  • Keragaman pasar: Indonesia terdiri dari 17.000+ pulau dengan konteks ekonomi dan budaya yang berbeda-beda
  • Perubahan regulasi yang dinamis: Aturan bisnis dan ekonomi yang terus berubah memerlukan kemampuan adaptasi dan analisis cepat
  • Persaingan global: Perusahaan Indonesia bersaing di tingkat internasional yang membutuhkan analisis kompetitif yang tajam

2. Mengatasi Tantangan Informasi di Era Digital

Era digital membawa tantangan baru yang memerlukan berpikir kritis:

  • Ledakan informasi: Kemampuan memilah informasi yang valid dari yang tidak valid menjadi krusial
  • Misinformasi dan hoaks: Indonesia termasuk negara dengan tingkat peredaran hoaks tertinggi di Asia Tenggara
  • Pengambilan keputusan berbasis data: Tren bisnis yang semakin mengandalkan data membutuhkan kemampuan analisis kritis

3. Navigasi Budaya Kerja Indonesia

Konsep berpikir kritis perlu disesuaikan dengan konteks budaya Indonesia:

  • Keseimbangan antara hierarki dan inovasi: Mengemukakan ide kritis sambil tetap menghormati struktur hierarki organisasi
  • Musyawarah dan mufakat: Mengintegrasikan berpikir kritis ke dalam proses pengambilan keputusan konsensual
  • Menjembatani kesenjangan generasi: Perbedaan perspektif antara generasi di tempat kerja Indonesia

Keterampilan Berpikir Kritis yang Dicari Perusahaan di Indonesia

Perusahaan di Indonesia mencari manifestasi spesifik dari kemampuan berpikir kritis. Berikut adalah keterampilan berpikir kritis yang paling dicari berdasarkan analisis lowongan kerja dan wawancara dengan HR profesional:

1. Analisis Masalah Kompleks

Kemampuan untuk memecah masalah kompleks menjadi komponen-komponen yang dapat dikelola:

  • Identifikasi akar masalah: Melihat melampaui gejala untuk menemukan penyebab sebenarnya
  • Pemahaman sistem: Mengenali bagaimana berbagai elemen saling terhubung dan memengaruhi
  • Prioritisasi faktor: Membedakan antara isu penting dan tidak penting dalam situasi kompleks

2. Evaluasi Informasi dan Sumber

Kemampuan untuk menilai kredibilitas dan relevansi informasi:

  • Verifikasi data: Memeriksa keakuratan informasi dari berbagai sumber
  • Pengenalan bias: Mengidentifikasi sudut pandang dan bias dalam informasi
  • Penilaian kualitas sumber: Mengevaluasi kredibilitas dan keahlian sumber informasi

3. Pengambilan Keputusan Berbasis Bukti

Pendekatan sistematis untuk membuat keputusan:

  • Pengumpulan bukti komprehensif: Mengumpulkan data relevan dari berbagai perspektif
  • Analisis cost-benefit: Menimbang pro dan kontra berbagai pilihan secara objektif
  • Antisipasi konsekuensi: Mempertimbangkan dampak jangka pendek dan jangka panjang

4. Kemampuan Mengenali Asumsi

Mengidentifikasi dan menguji asumsi yang mendasari pemikiran:

  • Menantang status quo: Berani mempertanyakan praktik yang sudah mapan
  • Kesadaran akan bias kognitif: Mengenali dan mengatasi bias dalam pemikiran sendiri
  • Pemisahan fakta dari opini: Membedakan antara apa yang diketahui dan apa yang dipercaya

5. Komunikasi Penalaran yang Jelas

Kemampuan untuk mengartikulasikan proses berpikir dengan jelas:

  • Strukturisasi argumen: Menyajikan pemikiran dengan logika yang koheren
  • Persuasi berbasis logika: Meyakinkan orang lain dengan bukti dan penalaran
  • Pelaporan analitis: Menyampaikan temuan kompleks dengan cara yang dapat dimengerti

6. Adaptasi dalam Ketidakpastian

Berpikir kritis saat menghadapi situasi ambigu atau tidak pasti:

  • Toleransi ambiguitas: Mampu bekerja efektif meski informasi tidak lengkap
  • Revisi pemikiran: Kesediaan untuk mengubah pendapat berdasarkan bukti baru
  • Navigasi perubahan: Menganalisis implikasi perubahan dan beradaptasi secara strategis

BACA JUGA: Manfaat Analytical Skill di Dunia Kerja, Contoh, dan Cara Meningkatkannya

Metode Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis untuk Profesional Indonesia

Mengembangkan kemampuan berpikir kritis membutuhkan latihan yang konsisten dan pendekatan yang terstruktur. Berikut adalah metode praktis yang dapat diterapkan dalam konteks profesional Indonesia:

1. Latihan Analisis Sistematis

Melatih kemampuan memecah masalah kompleks menjadi komponen-komponen yang dapat dianalisis:

Teknik 5 Whys

Metode ini berasal dari sistem produksi Toyota dan sangat efektif untuk menemukan akar masalah:

  1. Identifikasi masalah awal
  2. Tanyakan “Mengapa masalah ini terjadi?”
  3. Jawab pertanyaan tersebut
  4. Gunakan jawaban sebagai dasar untuk pertanyaan “Mengapa?” berikutnya
  5. Ulangi proses minimal 5 kali untuk mencapai akar masalah

Contoh dalam konteks Indonesia: 

Masalah: Tingkat keterlambatan karyawan tinggi 

  • Why 1: Mengapa karyawan sering terlambat? – Karena mereka terjebak kemacetan 
  • Why 2: Mengapa mereka terjebak kemacetan? – Karena mereka berangkat pada jam sibuk
  • Why 3: Mengapa berangkat pada jam sibuk? – Karena jam kerja kantor kita sama dengan kebanyakan kantor lain 
  • Why 4: Mengapa kita harus mengikuti jam kerja standar? – Karena kita belum memiliki kebijakan jam kerja fleksibel 
  • Why 5: Mengapa belum ada kebijakan jam kerja fleksibel? – Karena khawatir akan produktivitas dan pengawasan

Solusi potensial: Uji coba program jam kerja fleksibel dengan sistem monitoring yang efektif.

CATWOE Analysis

Metode ini membantu memahami perspektif berbeda dalam suatu situasi kompleks:

  • Customers: Siapa yang dipengaruhi?
  • Actors: Siapa yang melaksanakan aktivitas?
  • Transformation: Perubahan apa yang terjadi?
  • Worldview: Apa pandangan besar yang membuat ini bermakna?
  • Owners: Siapa yang dapat menghentikan aktivitas?
  • Environmental constraints: Batasan apa yang harus dipertimbangkan?

2. Praktik Argumentasi dan Debat

Memperkuat kemampuan untuk membangun dan mengevaluasi argumen:

Kerangka Argumentasi Toulmin

Model ini membantu strukturisasi argumen yang kuat:

  1. Klaim: Pernyataan yang Anda buat
  2. Bukti: Data yang mendukung klaim
  3. Jaminan: Logika yang menghubungkan bukti dengan klaim
  4. Pendukung: Bukti tambahan untuk jaminan
  5. Sanggahan: Pengakuan terhadap kemungkinan bantahan
  6. Kualifikasi: Kondisi di mana klaim berlaku

Devil’s Advocate Exercise

Secara sadar mengambil posisi berlawanan dengan pendapat umum:

  1. Identifikasi asumsi atau keyakinan yang diterima secara luas
  2. Tantang dengan mencari kelemahan dan alternatif
  3. Presentasikan penalaran alternatif ini secara persuasif

Dalam konteks Indonesia yang menekankan harmoni, teknik ini perlu diterapkan dengan sensitif, misalnya dengan awalan “Untuk kepentingan diskusi yang lebih komprehensif, mari kita pertimbangkan sudut pandang berbeda…”.

3. Eksplorasi Multi-Perspektif

Melatih kemampuan melihat isu dari berbagai sudut pandang:

Teknik Six Thinking Hats (Edward de Bono)

Metode pemikiran paralel untuk melihat masalah dari berbagai perspektif:

  • Topi Putih: Fokus pada data dan fakta objektif
  • Topi Merah: Ekspresikan intuisi dan perasaan
  • Topi Hitam: Identifikasi risiko dan kelemahan
  • Topi Kuning: Cari manfaat dan nilai positif
  • Topi Hijau: Eksplorasi ide kreatif dan alternatif
  • Topi Biru: Kelola proses pemikiran secara keseluruhan

Teknik ini sejalan dengan prinsip musyawarah dalam budaya Indonesia, yang menekankan pentingnya mendengarkan semua sudut pandang.

Stakeholder Analysis

Memetakan semua pihak yang terkena dampak keputusan:

  1. Identifikasi semua pemangku kepentingan
  2. Tentukan kepentingan dan pengaruh masing-masing
  3. Prediksi respons terhadap berbagai opsi
  4. Pertimbangkan semua perspektif dalam pengambilan keputusan

4. Pembelajaran dari Studi Kasus

Menganalisis situasi nyata untuk mengembangkan pemikiran kritis kontekstual:

Analisis Kasus Sukses dan Kegagalan Indonesia

Mempelajari kasus bisnis dan organisasi lokal:

  1. Identifikasi faktor-faktor kunci yang berkontribusi pada hasil
  2. Evaluasi keputusan yang dibuat dan alternatif yang tersedia
  3. Kembangkan rekomendasi dan pelajaran yang dapat diterapkan

Simulasi Pengambilan Keputusan

Berlatih menghadapi dilema dan situasi kompleks melalui simulasi:

  1. Identifikasi skenario relevan dalam konteks profesional Anda
  2. Kumpulkan informasi yang tersedia
  3. Buat keputusan dengan justifikasi
  4. Refleksikan proses dan hasil

5. Penerapan Alat Teknologi untuk Berpikir Kritis

Memanfaatkan teknologi untuk mendukung proses berpikir kritis:

Mind Mapping Tools

Alats eperti MindMeister, XMind, atau Coggle membantu:

  • Visualisasi hubungan antara konsep
  • Pengelompokan ide dan informasi
  • Identifikasi pola dan keterhubungan

Decision Analysis Software

Platform seperti Palisade DecisionTools atau Smart Decisions:

  • Analisis kuantitatif dari pilihan berbeda
  • Simulasi hasil berbagai skenario
  • Evaluasi risiko dan ketidakpastian

BACA JUGA: Bocoran 7 Skill yang Harus Kamu Punya Sebelum Kerja Remote

Studi Kasus: Penerapan Berpikir Kritis di Perusahaan Indonesia

Melihat implementasi nyata berpikir kritis dalam konteks bisnis Indonesia dapat memberikan wawasan berharga. Berikut beberapa studi kasus yang mendemonstrasikan nilai dari kemampuan ini:

Studi Kasus 1: Transformasi Proses Operasional di Manufaktur

PT Maju Industri, produsen komponen otomotif di Karawang dengan 500 karyawan, menghadapi masalah dengan tingkat cacat produk yang tinggi (7.2%) yang berdampak pada profitabilitas.

Penerapan Berpikir Kritis:

  1. Analisis Sistematis: Tim manajemen menggunakan diagram Ishikawa (fishbone) untuk mengidentifikasi akar masalah dari berbagai aspek (manusia, mesin, material, metode)
  2. Data-Driven Analysis: Mengumpulkan data komprehensif dari setiap tahap produksi dan menganalisisnya untuk pola
  3. Pengujian Asumsi: Menantang asumsi bahwa masalah terletak pada kualitas bahan baku, yang ternyata tidak didukung data
  4. Multi-Perspektif: Melibatkan operator lantai produksi hingga manajer senior dalam analisis

Hasil:

  • Identifikasi akar masalah yang sebenarnya: kalibrasi mesin yang tidak konsisten dan pelatihan operator yang tidak standar
  • Implementasi solusi yang menurunkan tingkat cacat dari 7.2% menjadi 1.8% dalam 6 bulan
  • Penghematan biaya tahunan sebesar Rp 3,6 miliar
  • Pengembangan program pelatihan berpikir kritis untuk supervisor produksi

Studi Kasus 2: Respons Krisis di Perusahaan Jasa Keuangan

Bank Nusantara, institusi keuangan menengah dengan jaringan nasional, menghadapi krisis kepercayaan nasabah setelah kasus keamanan data yang menjadi viral di media sosial.

Penerapan Berpikir Kritis:

  1. Evaluasi Informasi: Tim manajemen krisis secara cepat memverifikasi fakta dan memisahkannya dari rumor
  2. Analisis Stakeholder: Mengidentifikasi semua pihak terdampak dan kepentingan mereka (nasabah, regulator, media, karyawan)
  3. Pengambilan Keputusan Berbasis Bukti: Menggunakan data tentang skala sebenarnya dari insiden untuk menentukan respons proporsional
  4. Prediksi Konsekuensi: Menganalisis dampak berbagai opsi komunikasi dan tindakan perbaikan

Hasil:

  • Pengembangan strategi komunikasi transparan yang meredakan kekhawatiran
  • Implementasi perbaikan sistem keamanan yang bisa diverifikasi oleh pihak ketiga
  • Pemulihan kepercayaan nasabah dalam 3 bulan, dibandingkan rata-rata industri 9+ bulan
  • Adopsi framework berpikir kritis dalam protokol manajemen krisis perusahaan

Studi Kasus 3: Inovasi Produk di Startup Teknologi

Solusi Digital Indonesia, startup teknologi pendidikan dengan 85 karyawan, menghadapi stagnasi pertumbuhan pengguna dan persaingan ketat dari kompetitor.

Penerapan Berpikir Kritis:

  1. Menantang Asumsi: Tim produk menantang asumsi bahwa pengguna utama adalah siswa, dengan menganalisis data penggunaan aktual
  2. Kerangka Berpikir Lateral: Menggunakan teknik “reversal thinking” untuk mempertanyakan fitur-fitur inti
  3. Analisis Komparatif: Evaluasi mendalam terhadap solusi kompetitor dan identifikasi kebutuhan tidak terpenuhi
  4. Pengujian Hipotesis: Mengembangkan prototype cepat untuk menguji beberapa hipotesis produk berbeda

Hasil:

  • Penemuan bahwa guru, bukan siswa, adalah pengambil keputusan utama dan perlu difokuskan
  • Pivot strategi produk yang menghasilkan peningkatan 156% dalam akuisisi pengguna baru
  • Pengembangan fitur unik berbasis insight dari berpikir kritis yang tidak dimiliki kompetitor
  • Penerapan “critical thinking hackathons” bulanan sebagai bagian dari proses pengembangan produk

BACA JUGA: 20 Contoh Soft Skill yang Dibutuhkan dalam Dunia Kerja

Tantangan Berpikir Kritis dalam Konteks Budaya Indonesia

Meski berpikir kritis sangat penting, penerapannya di Indonesia menghadapi tantangan unik yang berakar pada faktor budaya, pendidikan, dan organisasi. Memahami tantangan ini adalah langkah pertama untuk mengatasinya.

1. Faktor Budaya dan Sosial

Beberapa elemen budaya Indonesia dapat menjadi tantangan dalam pengembangan berpikir kritis:

Hierarki dan Senioritas

  • Segan menantang otoritas: Budaya “sungkan” dan hormat pada senior dapat menghambat kesediaan untuk mempertanyakan ide atau keputusan
  • Komunikasi tidak langsung: Kecenderungan berkomunikasi secara tidak langsung untuk menjaga harmoni

Keselarasan Kelompok (Harmoni)

  • Prioritas konsensus: Mementingkan keharmonisan kelompok di atas perdebatan argumentatif
  • Penghindaran konflik: Kecenderungan menghindari konfrontasi, bahkan konfrontasi intelektual yang sehat

2. Tantangan Sistem Pendidikan

Sistem pendidikan memainkan peran penting dalam pembentukan keterampilan berpikir kritis:

Metode Pembelajaran Tradisional

  • Penekanan pada hafalan: Sistem pendidikan yang masih berfokus pada memorisasi daripada analisis
  • Kurangnya pembelajaran berbasis inkuiri: Terbatasnya eksposur terhadap metode pemecahan masalah

Kurangnya Eksposur pada Perspektif Beragam

  • Sumber belajar terbatas: Akses tidak merata ke sumber belajar yang beragam
  • Echo chamber: Paparan terbatas pada sudut pandang alternatif

3. Hambatan Organisasional

Struktur dan kultur organisasi dapat menjadi penghambat atau pendukung berpikir kritis:

Struktur Hierarkis Kaku

  • Top-down decision making: Keputusan dibuat di level atas dengan input minimal
  • Status quo bias: Resistensi terhadap ide-ide baru atau menantang

Budaya “Yes-Man”

  • Penghargaan pada kepatuhan: Sistem yang cenderung memberi reward pada kepatuhan daripada pemikiran independen
  • Penghindaran risiko: Ketakutan akan konsekuensi negatif dari menentang pendapat mayoritas

4. Strategi Mengatasi Tantangan

Banyak organisasi dan individu Indonesia telah berhasil mengembangkan strategi untuk mengatasi hambatan ini:

Pendekatan Berpikir Kritis yang Kontekstual

  • Berpikir kritis dengan “bahasa lokal”: Mengadaptasi terminologi dan pendekatan agar lebih selaras dengan nilai budaya
  • Kritik konstruktif berbungkus penghormatan: Teknik memberikan kritik sambil tetap menghormati hierarki

Contoh: Pendekatan “Saya ingin belajar dan memahami lebih dalam tentang keputusan ini” daripada “Saya tidak setuju dengan keputusan ini”.

Menciptakan Ruang Aman untuk Dialog Kritis

  • Forum khusus untuk diskusi terbuka: Sesi brainstorming di mana hierarki sementara ditanggalkan
  • Anonimitas sebagai alat: Sistem umpan balik anonim untuk ide-ide kontroversial

Kesimpulan: Mengembangkan Berpikir Kritis untuk Kesuksesan Karir di Indonesia

Berpikir kritis adalah kemampuan yang tidak hanya penting tetapi semakin menjadi pembeda utama dalam pasar kerja Indonesia yang kompetitif. Sebagaimana telah kita telaah dalam artikel ini, berpikir kritis adalah proses analisis, evaluasi, dan sintesis informasi secara objektif untuk membuat penilaian dan keputusan yang lebih baik.

Untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis yang efektif, perlu pendekatan yang mempertimbangkan nilai-nilai budaya lokal sambil tetap mempertahankan esensi analisis kritis.

Mulailah dengan langkah kecil—tantang asumsi, cari bukti, eksplorasi perspektif beragam, dan refleksikan proses pemikiran Anda sendiri. Berpikir kritis bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan pembelajaran seumur hidup yang akan terus menghasilkan manfaat dalam karir dan kehidupan Anda.

Ingin mendapatkan lebih banyak tips dan panduan untuk mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja? Kunjungi blog Seputar Kerja kami untuk akses ke berbagai artikel berkualitas seputar karir dan pengembangan profesional.

Survei LinkedIn: Bursa Kerja Terdisrupsi AI di 2030, Karyawan Butuh 5 Skill Ini, diakses pada 19 Maret 2025, https://teknologi.bisnis.com/read/20240228/101/1744752/survei-linkedin-bursa-kerja-terdisrupsi-ai-di-2030-karyawan-butuh-5-skill-ini

Bagikan Artikel Ini:
Bagikan Artikel Ini: Share Tweet
To top